Aku, Arkan, dan Petra

Aku tahu ini salah, aku tahu. Tapi ini bukan salahku sepenuhnya. 3 bulan lalu, aku membuat story instagram memuat film-film cringey teen romance. Aku berani menguploadnya karena, sungguh, aku sangat menyukainya. Awalnya kukira orang-orang akan menganggapku alay dan jijik karena selera filmku yang aku sadari memang tidak terlalu bagus.

Tapi beberapa menit setelah diluncurkan, Arkan me-reply story ig ku. “Eh, kamu juga suka film ini? Aku dah nonton semua sekuel nya lho!” Respon pertama saat ku lihat notif dari Arkan -jelas- aku senang. Sangat senang menemui seseorang yang mempunyai selera film yang sama denganku. 

“Wah, gak kusangka seorang juara kelas kaya kamu suka nonton film cringe begini haha…” kataku mereply. “BTW, aku juga udah nonton full sekuelnya lho. My fav yang pertama. Pokoknya gada yang bisa ngalahin film pertama. How ‘bout you?”

“Film teen romance begini siapa sih yang gak suka? Aku rasa semua orang suka dengan teen romance, tapi mereka gak mau mengakui aja karena gak bisa relate dengan cerita yang ‘too good to be true’ “ kata Arkan me-reply chat-ku yang pertama. Lalu ia kembali me-reply “Eh seriusan kamu suka yang pertama? Kalo aku sih suka yang terakhir:) Karena endingnya bikin nangis wkwk”

Setelah topik tentang teen romance udah habis, dia mulai merekomendasikan film-film favoritnya yang lain. Selain suka teen romance, ternyata dia juga suka genre superhero. Yaa, apalagi kalo bukan film MCU. Karena dia terus memaksaku menonton MCU, akhirnya aku coba nonton satu film. Hmmmm, ternyata gak seburuk yang aku kira! Action dan komedinya dapet!

Mulai dari situ, kami jadi sering mengobrol lewat chat maupun di sekolah. Memang gak keliatan deket banget sih kalo di sekolah, soalnya kita jarang ketemu karena beda kelas. Tapi untungnya kami se-organisasi, jadi lumayan deh buat ngobrol.

Lama-lama dari reply-reply an story, saling ngobrol dan cari topik, sering ngirim meme garing, saling tag di story, tumbuhlah rasa suka dan nyaman. Emang sih ini tipikal anak remaja banget, tapi Arkan beda. Kami klop dengan satu sama lain. Gak pernah awkward. Walaupun dah seorganisasi selama 2 tahun, tapi aku baru sadar hal-hal kecil spesial tentangnya.

Sebenarnya, Arkan in person gak setampan kayak namanya. Dia tinggi, agak berisi, rambutnya tegak, punya kantung mata yang lumayan besar, dan pipinya gembil. Ia ramah senyum dan sedikit kekanak-kanakan. Pinter banget kalo soal komputer. Walaupun suka main game, however dia bisa masuk sepuluh besar.

Gak cuma aku aja, tapi aku ngerasa dia juga catching feelings ke aku. Bukan karena text goofy atau sebagainya, tapi aku sering nangkep basah dia lagi ngeliat aku dari kejauhan. Lucu deh, waktu dia ketauan lagi natap, langsung berpaling dengan kecepatan 0.01 detik. Yaa walaupun gitu tetap ketahuan si haha.

Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba sudah ada Ujian Akhir Semester. Selama persiapan UAS, aku sengaja hapus semua medsos aku mulai dari Instagram, Twitter, Tiktok, bahkan kadang notif whatsapp aku matiin untuk fokus UAS. Aku dan Arkan jadi jarang komunikasi. 

Setelah UAS, emang sih kita ada project bareng, tapi komunikasi antara aku dan Arkan gak sesering dulu. Walaupun begitu, hatiku tetep ngeyel nge-crush in dia. Hingga saatnya ngadain salah satu acara gede yakni Pentas Seni kelas 9. Aku disini kebagian jadi sekretaris dan Arkan jadi Seksi Peralatan. Aku gak tau ini termasuk kepedean atau gak, tapiiii dia sering chat aku tentang topik Pensi Kelas 9 yang gak ada hubungannya sama tugasku sebagai sekretaris. I think he just misses me and wants to start a conversation? 

Aku seneng bukan kepalang dengan fantasi fantasi kayak teen romance, apakah ini saatnya kisah cintaku dimulai? Aku tertawa kecil. Dengan harapan setinggi langit dan tingkat percaya diri sepenuh lautan, hatiku dipatahkan dengan sebuah postingan.

Dia Petra, teman se organisasi juga. Kami sama-sama Bendahara, dia Bendahara 1 dan aku Bendahara 2. Dia sekelas dengan Arkan. Dia cantik, langsing, pintar public speaking, lucu, dan baikk banget. Kita lumayan dekat, bahkan sering koordinasi mengenai ini itu.

Memang sih aku tidak pernah cerita ke siapa-siapa tentang kedekatanku dengan Arkan, tapi bukankah sudah jelas jika aku menyukainya? Dari caraku menatapnya, caraku mencarinya kemana-mana saat dia tidak ada, caraku memperlakukannya dengan lembut, tapi ternyata semua itu tidak terlihat di mata orang-orang. Atau mungkin hanya aku saja yang dianggap invisible oleh mereka?

Petra mengunggah sebuah postingan. Isinya foto dirinya dengan Arkan. Bergandengan tangan. Walaupun foto itu di crop, aku tahu jelas bahwa itu tangan dan baju Arkan. Captionnya tambah tambah membuat dunia romanku runtuh. 

Your face is the most wonderful art. Your voice is the most soothing sound, Your presence is the most magical thing that has happened in my life. U and Me are Us, and Us means forever.. 

Tidak sampai disitu saja rasa sakitku, lebih parahnya ada tulisan yang membuatku merasa dikhianati. Tulisan bahwa ‘postingan ini disukai oleh Arkan’. Aku kira selama ini ada yang spesial diantara kita, ternyata aku hanya teman curhatmu dan semua hal tentang omong kosong cinta hanyalah imajinasiku. Bahkan jika kau putus dengan Petra, aku tak bisa menyukaimu seperti dulu lagi, karena bagaimanapun Petra adalah temanku.

Tinggalkan Komentar