PENSI

Oleh Wa Ode Nisrina Sayyidah Hidayat

Dag dig dug dag…

Jantungku berdetak sangat kencang. Sebentar lagi adalah pengumuman hasil suara pemilihan Ketua OSIS. Jujur saja, aku bukan takut tidak terpilih tapi justru sebaliknya, yakni takut terpilih. Kalian pasti bertanya, mengapa jika takut terpilih aku mengajukan diri menjadi calon ketua OSIS? Aku tidak mengajukan diri, tapi sistem OSIS di sekolahku adalah calon ketua OSIS dipilih oleh guru dan kakak kelas.

Aku sangat tidak mengerti kenapa mereka menganggapku layak untuk menerima segitu besarnya tanggung jawab padahal masih kelas 7. Dan benar saja, yang kutakuti terjadi. Aku terpilih. Untuk kalian yang tidak tahu bagaimana rasanya memiliki banyak tanggung jawab yang tidak diinginkan itu seperti tatapanmu tiba-tiba kosong karena kau memikirkan terlalu banyak hal. Rasanya seperti ingin menangis tapi disisi lain kalian tak ingin terlihat lemah. Ingin menyerah tapi kenyataannya tidak ada opsi selain maju..

Mungkin kalian masih belum paham kenapa aku sangat tidak menginginkan posisi ini. Yang sebenarnya terjadi adalah aku takut. Takut gagal, takut akan hal baru, takut salah bertindak, tapi yang paling kutakutkan adalah mengecewakan.. Tidak hanya guru dan kakak kelas, tapi teman-temanku yang memilihku sudah mempercayaiku menjadi ketua OSIS, jadi jika gagal mereka pasti menyesal memilihku.

Karena sudah terlanjur terpilih, aku pun berusaha menerimanya walaupun dengan berat hati. Aku coba bangkit dan berusaha menjadi versi terbaik dalam diriku.

***

Sudah 1 bulan berlalu, dan tebak apa? Mengejutkannya aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya merasa benar-benar bersyukur karena telah berhasil melakukan semuanya. Satu hal yang kusadari adalah bahwa semuanya terasa mudah karena aku bersama dengan anggota lainnya. Aku tidak sendiri. Percaya diriku semakin meningkat hari demi hari. Ide-ide program kerja baru melimpah dan nilaiku naik. Aku rasa tidak ada yang lebih baik dari kehidupanku saat ini. Sempurna.

Penilaian Akhir Semester akhirnya berakhir. Inilah saatnya salah satu event terbesar OSIS yakni …PENSI! PENSI adalah singkatan dari Pentas Seni. PENSI ini merupakan event setiap tahun berupa lomba dengan menampilkan sebuah karya seperti bernyanyi, musikal, drama, ataupun situasi komedi untuk setiap kelas. Sepulang sekolah, aku mengumpulkan anggota untuk rapat seputar PENSI, seperti biasa kami bagi-bagi tugas untuk MC, keamanan, tim dekorasi, tim dokumentasi, dan tim lainnya. Rapat berjalan lancar seperti biasanya.

H-1 kami sudah menyiapkan panggung, lampu, audio, kostum, alat musik, dan lainnya dengan rapi. Panggung untuk PENSI kali ini berada diluar yakni di lapangan.  Karena takut tidak sempat menata semua properti keesokan paginya, maka kami tinggal semua alat di dekat panggung. Setelah semua beres, kami pulang tanpa ada rasa resah.

***

Hari H aku bangun lebih pagi dari biasanya. Sarapan 2 centong nasi dengan lauk ikan lele goreng dan sayur kangkung membuatku tambah semangat menjalani hari.Dengan perasaan gembira dan penuh semangat, aku berangkat sekolah dengan Gogo, sepeda kesayanganku, sambil bersenandung lagu yang akan aku persembahkan di PENSI nanti.

Aneh. Sesampainya aku di sekolah entah kenapa suasananya tidak terlalu bagus padahal cuaca hari ini cerah. “Eh, Ran. Kamu nyari sesuatu?” tanyaku pada Ran, wakil ketua Osis, yang terlihat panik mencari sesuatu di gudang. “Ada apa?”

“Yaampun Arin, akhirnya dateng juga. Ini Rinnnn speaker, mic, kostum sama properti di panggung hilang. Aduuh kalo ada yang ambil gimana dong!” Ran panik sambil mengecek apa saja di bawah kain putih di gudang.

Seketika jantungku hampir berhenti. Aku takut apa yang dicurigai Ran betul. Jika iya, aku pasti akan dihukum, tidak tidak, Bukan itu yang kutakuti. Aku takut nama OSIS tercoreng karena kecerobohaku sendiri. Astaga, aku pasti benar-benar gila.

“Hah, beneran ini Ran? Aduuuh udah tanya ke anggota lain belum? Siapa tau mereka yang pindahin.” 

“Udah, Rin. Tapi mereka juga gatau semua. Kemarin terakhir kita taruh di deket lapangan, aku takutnya dicuri orang gimana dong, gapunya duit lagi aku duh!” 

Kepanikan Ran semakin membuatku panik juga padahal acaranya akan dimulai sejam lagi. Aku ikut bantu mencari-cari di setiap sudut sekolah. Waktu berlalu sedikit demi sedikit hingga hanya tersisa 30 menit sebelum acara, properti yang hilang belum juga ditemukan. Aku semakin khawatir dan hampir menangis.

Karena lelah, aku duduk sebentar di panggung. Tapi ada yang terasa mengganjal di bawah. Lantai panggungnya sedikit tidak rata dan ada bagian yang menonjol. Saat aku cek ke bawah panggung, ternyata oh ternyata…. microphone, speaker, kostum, dan properti panggung lainnya ada di situ. Kita terlalu sibuk dengan gudang dan kelas sampai lupa mengecek kolong panggung yang ternyata lumayan tinggi untuk menyimpan barang-barang itu. Huh akupun bernafas lega.

“Rinnnnnn, katanya Pak Budi ada di kolong panggung, coba kamu cek, deh!” Ran teriak dari kejauhan sambil berlari ke arahku. 

“Udah telat, Ran. Udah ketemu,” kataku ketus.

“Kemarin, katanya Pak Budi waktu mau pulang langitnya mendung. Waktu liat properti panggung dibiarin di lapangan, Pak Budi jadi mindahi ke bawah panggung biar ga kehujanan. Jadi gitu. Untung aja ga diambil orang,” kata Ran masih ngos-ngosan.

Aku baru sadar jika sedari tadi rumput di lapangan basah karena hujan tadi malam. Untung saja ada Pak Budi, jadi peralatannya tidak rusak. Setelah itu, kami bergegas menata dengan cepat dan acara pun dilanjutkan tanpa ada hambatan.

Pengalaman kali ini aku jadikan pelajaran bahwa harus memikirkan semua kemungkinan, baik dan buruk dari suatu situasi. Dan harus selalu menyiapkan semuanya dengan tanggap dan cepat, tanpa ada yang kurang. Dan yang paling penting… kalo ada barang hilang tanya ke Pak Budi dulu haha.

Tinggalkan Komentar